Perusahaan yang berjualan ke konsumen bisa menawarkan diskon hari ini dan mendapat pesanan malam ini. Perusahaan yang berjualan ke perusahaan lain, siklusnya berbulan-bulan, decision maker-nya lebih dari satu orang, dan diskon di iklan tidak membuat direktur procurement mengangkat telepon.

Kalau Anda mencoba menyalin resep iklan konsumen ke bisnis B2B dan hasilnya mengecewakan, itu bukan karena digital marketingnya gagal. Resepnya yang salah dipakai.

Perbedaan Mendasar

Siklus Pembelian

B2C bisa impulsif: lihat, tertarik, beli. Pembelian B2B berjalan lewat tahapan: ada masalah, ada pencarian informasi, ada perbandingan penyedia, ada pertemuan, ada negosiasi, ada persetujuan. Konten Anda harus melayani orang di tahap mana pun mereka berada, bukan hanya menawarkan harga di detik pertama.

Jumlah Pengambil Keputusan

Iklan B2C berbicara kepada satu orang yang bisa memutuskan sendiri. Di B2B, yang Anda yakinkan bisa terdiri dari user harian, kepala divisi, tim finance, dan direktur. Masing-masing punya kekhawatiran berbeda: kemudahan pakai, risiko operasional, biaya, dan garansi.

Alasan Percaya

Konsumen percaya dari ulasan dan tampilan. Pembeli B2B percaya dari bukti: studi kasus, referensi proyek serupa, dan kejelasan cara kerja. Di sinilah halaman use case dan artikel seperti yang sedang Anda baca melakukan pekerjaannya.

Channel yang Bekerja untuk B2B

Pencarian Google. Orang yang mengetik “jasa integrasi SAP Malang” sedang memiliki masalah nyata dan mencari solusi. Muncul di pencarian untuk kata kunci seperti ini bernilai jauh lebih tinggi daripada tayang ke orang acak. Untuk itu blog teknis dan halaman layanan yang rapi adalah modal, bukan pelengkap.

LinkedIn. Untuk menjangkau jabatan pengambil keputusan, cakupannya lebih relevan daripada platform konsumen.

Email yang mengedukasi. Calon klien B2B butuh bahan untuk meyakinkan atasan mereka. Artikel, studi kasus, dan ringkasan perhitungan yang bisa diteruskan ke atasan adalah alat bantu penjualan, bukan spam.

Iklan pencarian, bukan iklan interupsi. Iklan yang muncul saat orang mencari solusi jauh lebih efisien untuk B2B daripada iklan yang menyela video hiburan.

Kesalahan yang Paling Sering Kami Lihat

Menjalankan iklan B2C untuk produk B2B: target luas, kreatif berpola diskon, dan mengukur hasil dari klik. Semua itu menghasilkan laporan yang bagus dan pipeline yang kosong.

Kesalahan kedua: menghentikan pemasaran saat sedang penuh pekerjaan. Karena siklus B2B panjang, bulan Anda sepi enam bulan dari sekarang ditentukan oleh konten dan iklan hari ini.

Kesalahan ketiga: tidak punya tempat menampung minat. Iklan mengarah ke beranda yang tidak menjelaskan apa-apa, lalu prospek pergi tanpa jejak. Minimal, arahkan ke halaman layanan yang menjelaskan dan berikan jalur jelas untuk menghubungi tim Anda.

Mulai dari yang Paling Dekat

Kalau budget dan tenaga terbatas, urutan yang kami sarankan:

  1. Pastikan website dan halaman layanan menjawab pertanyaan dasar calon klien
  2. Tulis dua sampai tiga artikel yang menjawab pertanyaan yang paling sering ditanyakan prospek, seperti yang sedang Anda baca ini
  3. Susun satu studi kasus nyata dari pekerjaan terbaik Anda
  4. Baru setelah itu bicara iklan berbayar

Kalau ingin membahas strategi digital marketing yang sesuai siklus penjualan bisnis Anda, lihat layanan digital marketing kami atau langsung hubungi tim kami.