Berita RingkasSaatnya baca berita ringkas dan akurat tanpa HOAX

Mendadak Ulama, Fenomena Yang Terjadi di Indonesia

Saya kira semua sudah mengetahui kabar penyair Taufik Ismail yang mak bedunduk mengharamkan lagu Padamu Negeri. Dia menyatakan bahwa lagu itu adalah lagu syirik, sehingga yang menyanyikannya akan menjadi musyrik. Saya bilang, wow, rupanya virus “suddenly ulama” telah menjalar ke mana-mana.

Saya ingin mengatakan begini, hai para “suddenly ulama”, ketahuilah, bahkan seorang ulama sekaliber Muhammad al-Ghazali saja akan merujuk kepada literatur-literatur yang banyak agar mendapatkan hasil ijtihad yang—paling tidak—telah sangat melelahkannya untuk mencapai hasil yang maksimal. Setelah berlelah-lelah menelusuri literatur hanya untuk satu masalah saja, pun para ulama tidak merasa bahwa apa yang dikatakannya adalah kebenaran mutlak. Yang ditelusuri itu macam-macam: apakah pernah Nabi SAW. menyatakan seperti itu atau semisal itu; apakah pernah ulama-ulama kenamaan menyatakan hal semisal itu. Lalu, di dalam ilmu tauhid apakah hal semacam itu mengganggu keimanan.

Di Indonesia tercinta ini, para “suddenly ulama” itu sekarang menjamur di mana-mana. Orang-orang ini, tanpa berlelah-lelah merujuk litaratur, tiba-tiba mengeluarkan fatwa “dwer”, seperti mercon bantingan.

Memang, bagi masyarakat awam, orang-orang yang berteriak-teriak seperti yang terlihat pada komik-komik peperangan akan terlihat seperti ulama sungguhan, yang sedang memperjuangkan kebenaran. Mungkin bagi mereka, gambar dalam komik-komik itu adalah kebenaran. Tapi ingat, itu hanya bagi masyarakat awam. Bagi para santri, anda-anda (tanpa a besar) yang sedikit-sedikit haram-kafir-bid’ah-musyrik, terlihat seperti pelawak yang tidak lucu.

Sesungguhnya ini adalah masalah yang sangat sederhana. Untuk memahaminya tidak memerlukan pisau bedah ushul fiqih atau ulumul quran segala. Coba kita bahas.

Rasulullah SAW. bersabda:

ما أطيبَك من بلدٍ! وما أحبَّك إليَّ! ولولا أن قومي أخرجوني منك، ما سكنتُ غيرَك. رواه الترمذي.

“Engkau begitu indah (wahai Makkah), betapa besarnya cintaku kepadamu. Jikalau aku tidak diusir oleh kaumku, aku tidak akan meninggalkanmu (wahai Makkah).”

Ini adalah hadis yang menerangkan betapa Nabi SAW. sangat mencintai Mekkah, kota kelahirannya. Nabi mencintai Mekkah lebih dari Madinah. Suatu hari, saat meruqyah, Nabi SAW. menyampaikan kalimat seperti ini:

تربة أرضنا ، وريقة بعضنا ، يشفى سقيمنا ، بإذن ربنا. الراوي: عائشة المحدث: البخاري – المصدر: صحيح البخاري – الصفحة أو الرقم: 5746

“Dengan tanah negeri kami, dengan air liur sebagian dari kami, orang-orang yang sakit dari kami disembuhkan dengan izin dari Tuhan kami.”

Mengenai hadis ini, para ulama berpendapat bahwa bahwa tanah negara (tanah kelahiran) dimana manusia hidup di atasnya, memiliki pengaruh kepada manusia. Makanya, konon ilmu kedokteran modern mengkonfirmasi kebenaran tanah kelahiran itu memiliki pengaruh kepada manusia dalam hal kedokteran (lihat http://www.fairfaxcounty.gov/nvswcd/newsletter/soilmedicine.htm). Al-Hafidz Ibnu Hajar dari al-Baydhawi menyatakan bahwa pada air liur ada zat yang berguna untuk pertumbuhan dan keseimbangan tubuh, demikian juga tanah kelahiran (tanah negara). Inilah kemudian disebut bahwa tanah air (bangsa dan negara) itu adalah jiwa raga bagi penghuninya, karena tanah dan air itu memiliki ikatan lahir dan batin dengan mereka.

Maka, tidak ada salahnya saya cuplikkan sebuah pendapat dari ulama Mekkah—karena yang biasanya gampang mengharamkan dan mengkafirkan itu anak-anak wahabi yang bermakmum kepada ulama-ulama Mekkah—Syeikh Abdus Salam bin Barjas bin Nasir Aali Abdil Karim. Beliau menukil pendapat al-Baydhawi mengenai tanah air itu, dengan teks begini:

أنه ينبغي للمسافر ان يستصحب تراب أرضه إن عجز عن استصحاب مائها حتى إذا ورد المياه المختلفة جعل شيئاً منه في سقائه ليأمن مضرة ذلك

“Seharusnya para musafir membawa tanah kelahirannya—jika tidak mampu membawa airnya—sehingga jika mendatangi sebuah tempat yang memiliki struktur air yang berbeda, maka dia akan aman dari bahaya penyakit saat meminumnya.”

Betapa hebatnya ikatan antara penduduk sebuah negara dengan tanah dan airnya kan? Maka, sekali lagi, jika saya mengatakan bahwa jiwa raga saya adalah untuk negara ini, itu tidak salah, karena negara ini pun—seperti yang telah kita bahas baru saja—jiwa dan raganya untuk kita semua.

Allah SWT. berfirman di dalam Qs. al-Baqarah 246:

قالوا ومالنا لا نقاتل في سبيل الله وقد أخرجنا من ديارنا وأبنائنا

“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”

Para ulama berpendapat bahwa penyebab peperangan biasanya adalah pengusiran penduduknya dari tanah kelahirannya. Maka, Islam datang dengan syariat melawan peperangan dengan peperangan (artinya boleh berperang). Inti dari syariat ini adalah bahwa “merelakan jiwa dan raga” untuk negara adalah suatu kewajiban bahkan fardhu (dalam madzhab Hanafi fardhu itu lebih tinggi daripada wajib) yang muta’akkid (yang sangat). Karena, dalam Islam, saat seorang muslim berperang, dia harus teguh dan tidak ragu. Allah SWT. berfirman dalam Qs. al-Anfal 45:

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu.”

Syaikh Muhammad al-Ghazali berpendapat mengenai hal ini:

والبشر يألفون أرضهم على ما بها، ولو كانت قفرا مستوحشا، وحب الوطن غريزة متأصلة في النفوس، تجعل الإنسانَ يستريح إلى البقاء فيه، ويحن إليه إذا غاب عنه، ويدافع عنه إذا هُوجِم، ويَغضب له إذا انتقص

Manusia itu mencintai tanah kelahirannya dan semua yang hidup di atasnya, walaupun tanah kelahirannya itu telah menjadi tanah tandus yang menakutkan. Cinta tanah air itu adalalah insting yang memiliki ikatan erat dengan jiwa. Cinta ini membuat manusia ingin menetap di tanah airnya; rindu kepadanya jika jauh; membelanya jika diserang; marah jika tanah airnya dihancurkan.

Al-Aljuni berkata dalam Kasyful Khofa’ Wa Muzilul Ilbas:

إذا أردت أن تعرف الرجل فانظر كيف تحننه إلى أوطانه,وتشوقه إلى إخوانه ,وبكاؤه على ما مضى من زمانه.

“Jika Anda ingin mengerti seseorang, maka lihatlah bagaimana kerinduannya kepada negaranya, kepada teman-temannya, tangisannya atas kesalahan-kesalahannya di masa lalu.”

Dan dalam kitab yang sama, al-Aljuni berkata:

أنه لا يحب الوطن إلا مؤمن وإنما فيه أن حب الوطن لا ينافي الإيمان انتهى

“Tidak mencintai negaranya kecuali seorang yang beriman. Artinya, bahwa cinta negara itu bukanlah sesuatu yang menghilangkan iman.”

Ditulis oleh Khoiron Mustafit Alwie