Berita RingkasSaatnya baca berita ringkas dan akurat tanpa HOAX

Mau Ajari Anak Ilmu Coding? Perhatikan dan Cermati Beberapa Hal Berikut Ini

ajari-anak-ilmu-coding

Coding atau bahasa pemrograman saat ini memang semakin marak diminati dan dipergunakan oleh berbagai kalangan. Hal ini dikarenakan teknologi yang terus berkembang dan masuk hampir pada berbagai bidang. Nah dari maraknya penggunaan teknologi yang berbasis coding ini maka kemudian coding sebagai sebuah ilmu pengetahuan makin dicari dan dipelajari.

Pembelajaran coding sendiri bahkan tidak hanya terbatas pada kalangan remaja, kaum muda dan orang tua. Sebab kini coding sudah mulai diajarkan pada anak-anak. Pemerintah sendiri melalui Kementrian Pendidikan dan kebudayaan sedang menggodok rencana penambahan mata pelajaran coding di sekolah.

Tak Ada Salahnya Mengajarkan Ilmu Coding Pada Anak-anak

Jadi jika Anda para orang tua yang juga ingin mengajarkan anak-anak ilmu coding maka tak ada salahnya Anda melakukannya. Siapa tahu ilmu coding yang Anda ajarkan ini nantinya akan berguna untuk anak-anak Anda dimasa depannya. Menurut Co-Founder Coding Indonesia, Wahyudi menyatakan bahwa ilmu coding sebenarnya tak harus didapat dari jalur formal yaitu lembaga pendidikan, tapi belajar ilmu coding ini bisa diterapkan dan diinterpretasi dalam kehidupan sehari-hari dengan metode yang mudah dan mudah diterima.

Mengajarkan Ilmu Coding ke Anak-anak Tidaklah Sulit

Membayangkan bahasa pemrograman memang seringkali membuat pikiran langsung terhubung dengan sesuatu yang ribet. Bagaimana tidak, bahasa pemrograman ini menggunakan kode-kode angka dan huruf yang sangat tidak dimengerti untuk dibaca seperti bacaaan umum. Namun menurut Wahyudi, aplikasi coding ini sama dengan kehidupan sehari-hari. Jika Anda pernah belajar matematika, algoritma dan logika maka sebenarnya itulah dasar ilmu coding.

Dari sini juga kemudian Wahyudi merasa ilmu coding sangat mungkin untuk diajarkan pada anak-anak kecil sekalipun. Bahkan menurutnya, mengajarkan coding ke anak-anak jauh lebih mudah dari pada mengajarkan coding ke orang dewasa. Mengapa demikian? Sebab menurutnya anak-anak lebih mudah menangkap sebuah analogi daripada orang dewasa. Dari metode pengajaran ini sendiri, Wahyudi malah kemudian menerapkannya untuk mengajarkan coding pada orang dewasa.

Lalu Kapan Waktu yang Tepat Untuk Anak-anak Belajar Coding?

Menurut Wahyudi, belajar bahasa pemrograman atau coding ini tak harus menunggu remja (usia 20 tahun-an). Alih-alih menunggu dewasa, menurut Wahyudi belajar coding semakin baik bila dimulai sejak anak-anak (usia dini). Untuk batasan usia sendiri Wahyudi tidak mematok umur berapa usia anak bisa belajar coding.

Untuk bisa menentukan sudah bisa atau tidaknya anak belajar coding, Wahyudi mendasarkan pada kebiasaan anak yang sudah bisa memainkan gadget, tablet dan komputer. Nah saat anak-anak sudah bisa memainkan perangkat-perangkat tersebut, itu tandanya mereka sudah siap dan bisa mendapatkan ilmu coding.

Proses Belajar Coding untuk Anak Diawali dengan Hal yang Mudah

Ilmu coding menurut Wahyudi digunakan dan dimanfaatkan untuk memberikan instruksi kepada komputer guna memecahkan masalah. Salah satu produk coding sendiri adalah aplikasi. Namun untuk anak-anak, tentunya proses pembelajaran coding akan dimulai dan diawali dari sesuatu yang sederhana dulu.

Proses belajar coding yang paling mudah sendiri yang bisa dilakukan oleh anak-anak dan pemula adalah membuat game. Ya, game yang merupakan hal favorit bagi anak-anak tentunya akan sangat menarik perhatian anak-anak untuk melakukan dan mengerjakannya.

Kaum Laki-laki Mendominasi

Dalam lembaga pembelajaran codingnya yaitu Coding Indonesia, Wahyudi menyatakan bahwa peminat belajar coding ini didominasi oleh kaum pria. Hal ini terlihat dari jumlah yang mendaftar untuk belajar di lembaganya. Mengapa kaum laki-laki ini lebih banyak mendominasi belajar coding? Menurut Wahyudi salah satu hal yang menyebabkannya adalah adanya permasalahan sudut pandang.

Sampai saat ini publik atau masyarakat memang memandang bahwa orang yang cocok bekerja di industri TI (Teknologi dan Informasi) adalah kaum laki-laki. Persepsi dan pandangan ini menurut Wahyudi bisa jadi benar dan bisa jadi juga salah. Hal ini karena saat ini kaum perempuan yang bekerja di bidang TI sudah banyak dan tidak sedikit dari mereka yang berkompeten dan suskes.

Ubah Pemikiran dan Persepsi

Nah dari sinilah Wahyudi menyatakan bahwa persepsi dan pemikiran bahwa dunia TI ini adalah mutlak milik laki-laki haruslah diubah. Jika tidak dubah maka hal ini bisa saja membuat kesenjangan gender makin besar. Meski tidak mudah mengubah persesi umum di masyarakat tersebut, tapi memang tidak ada cara lain yang bisa mengubah selain membongkar pemikiran dan paradigma tersebut.